Bacaan — Talqin Mayit Arab

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوْتُ، بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ، وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ.

To the onlookers, it was a ritual of grief. But to Ibrahim, it felt like a final act of friendship. He imagined Omar in the quiet darkness of the Barzakh , hearing these familiar sounds—the sharp 'Hha' and the deep 'Qaaf'—acting as a compass in a new world. The words weren't meant to teach the dead something new, but to anchor them in the peace they had cultivated in life.

Sebagai bentuk permohonan syafaat, doa, dan bantuan spiritual dari orang yang hidup agar ruh sang jenazah diberikan keteguhan ( tsabat ) saat menghadapi ujian pertama di alam kubur. bacaan talqin mayit arab

Wa annallāha yab'athu man fil-qubūr

The testimony that there is no god but Allah, Alone, without partner, But to Ibrahim, it felt like a final act of friendship

Secara bahasa, kata "talqin" (تلقين) berasal dari bahasa Arab yang berarti tafhīm , yaitu memberi pemahaman atau mengajarkan. Dalam kamus al-Munjid , kata ini didefinisikan sebagai memberi pemahaman secara langsung dari mulut ke mulut. Sementara itu, secara istilah dalam konteks kematian, talqin memiliki dua pengertian utama:

Talqin biasanya dimulai dengan kalimat tauhid dan potongan ayat Al-Qur'an tentang hakikat kematian. contoh: Yā 'Abdallāh ibna amatih)

Lā ilāha illallāh Muhammadu-r-rasūlullāh. Tsabbatakallāhu bil qawlith-tsābiti fil hayātid-dunyā wa fil ākhirah.

Yā ... (sebut nama jenazah bin/binti nama ibunya, contoh: Yā 'Abdallāh ibna amatih), udzkuril-‘ahdal-ladzī kharajta ‘alaihi minad-dun-yā: syahādata an lā ilāha illallāh wa anna Muhammadan rasūlullāh, wa annal-jannata haqqun, wa annan-nāra haqqun, wa annal-ba‘tsa haqqun, wa annas-sā‘ata ātiyatun lā raiba fīhā, wa annallāha yab‘atsu man fil-qubūr.

Hukum membaca talqin setelah jenazah dikuburkan merupakan salah satu topik yang memiliki ruang diskusi (perbedaan pendapat) di antara para ulama fikih: